jump to navigation

syarat sah zakat 14 September 2009

Posted by masluch in Tak Berkategori.
add a comment

SYARAT-SYARAT SAH ZAKAT,

ADAB MENUNAIKAN DAN

LARANGAN-LARANGANNYA

Setiap kali orang melakukan ibadah, tentu harapannya diterima oleh Allah swt, sebagai amal baik, mendapat pahala berlipat ganda, yang akan ia petik di akherat kelak. Dan tak seorangpun mukmin menginginkan ibadahnya sia-sia. Apalagi bila ibadah itu berkaitan dengan yang sifatnya mengorbankan harta, maka harapan itu semakin tinggi, seiring dengan rasa “eman” yang merekatkan hubungan antara hati dan harta pada umumnya manusia. Zakat adalah ibadah fardhu yang utama dalam konteks ini. Demi mencapai kualitas ibadah zakat yang sempurna, mutlak harus diperhatikan syarat sah zakat dan adab menunaikan serta larangan-larangan yang berhubungan dengan pelaksanaan zakat.

Syarat sah zakat

Pemahaman dan pengalaman terhadap syarat sah ini mutlak diperlukan, karena hal ini menjadi penentu sah atau tidaknya zakat, dimana tidak sahnya zakat berarti belum gugurnya kewajiban, yang berakibat kepada wajibnya penunaian ulang zakat tersebut. Tentu yang demikian ini tidak perlu terjadi, karena hanya akan memberatkan muzakki. Syarat-syarat itu adalah:

1. Niat

Semua ulama sepakat bahwa niat merupakan syarat sah zakat. Hal ini berdasar kepada sabda Rasulullah saw :

“sesungguhnya sahnya sebuah amal tergantung kepada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang diniatkan…”(HR. Bukhari : 1)

Pada sisi lain, zakat adalah ibadah wajib yang berwujut mengeluarkan sebagian harta dan mempunyai perserupaan dengan bentuk pengeluaran harta yang lain, baik itu ibadah seperti shodaqah, maupun yang bukan ibadah, seperti hibah bukan karena Allah, sedangkan fungsi niat adalah membedakan antara ibadah dengan yang bukan, begitu pula yang membedakan ibadah yang satu dengan yang lain.

Ulama juga bersepakat bahwa tempat niat itu di dalam hati, dan tidak satupun diantara mereka yang menyaratkan niat dalam bentuk ucapan. Walaupun tidak ada larangan untuk mengucapkannya. Sebagai contoh niat dalam hati itu bila diungkapkan adalah seperti “ini adalah zakat fitrahku”, yang ini zakat fitrah anakku Ahmat” atau “ini zakat hartaku“ dan sebagainya.

Adapun kapan muzakki berniat, ini bisa dilakukan pada saat menyerahkan kepada amil atau langsung kepada mustahiq, waktu menyerahkan kepada wakilnya dan bisa pula ketika ia menyisihkan hartanya untuk zakat. Pada dua waktu niat yang tersebut di akhir, bila niat telah dilakukan pada salah satu dari keduanya, maka tidak perlu mengulangi niat ketika menyerahkan zakat kepada amil atau secara langsung kepada mustahiq.

2. Memberikan hak kepemilikan

Maksud dari syarat ini adalah orang yang hendak berzakat harus nyata-nyata menyerahkan hartanya baik kepada amil , langsung kepada mustahiq atau melalui wakil. Tidak dibenarkan penunaian zakat itu dalam bentuk mempersilahkan orang lain mengambil sebagian hartanya atau memakannya lalu ia menganggap itu sebagai zakat.

Pada kasus dimana zakat itu akan diberika kepada anak kecil atau gila maka diserahkan pada wali atau orang yang diserahi untuk memeliharanya. Syarat yang kedua ini didasarkan kepada ayat “wa aatuzzakaah” (Al Baqarah : 110) yang artinya” Dan berikanlah zakat”, memberikan berarti menyerahkan kepemilikan kepada pahak lain. Hal ini diperkuat dengan ayat “innamashadaqaatu lil fuqara” (At Taubah : 60) yang mana “lil” dalam ayat itu berfungsi menunjukkan makna kepemilikan.

Larangan-larangan dalam zakat

Hal yang mungkin kurang popular adalah adanya larangan-larangan terkait dengan ibadah zakat. Walaupun pada ibadah lain semisal sholat, puasa dan haji telah mendapat porsi pembahasan yang memadahi.

Ibnu juzzy ulama madzhab maliki menyebutkan larangan-larangan itu ada tiga. Sebagian disetujui ulama yang lain ada pula yang tidak. Secara global tiga larangan tersebut ialah:

1. membatalkan dengan cara menyebut-nyebut atau mengungkit-ungkit pemberian                   zakatnya. Begitu pula bila penunaian itu dibarengi dengan sikap yang menyakitkan kepada mustahiq penerima zakat.

2.   membeli zakatnya kembali.

3.   mengumpulkan para mustahiq untuk dibagikan zakat kepadanya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.